Sunday, October 14

http://jctrois.com/bible/2012/10/02/unfading-beauty/: http://besoci.al/ehlve Sent from Photo Verse (http://besoci.al/ehlvf)

Sunday, April 15

Saya Kehilangan Kendali! (4)

posting sebelumnya 
Saya Kehilangan Kendali! (3)
Saya Kehilangan Kendali (2)
Saya Kehilangan Kendali (1)

Hana dan Penina, 
keduanya bertindak berdasarkan perasaan kekurangan di dalam kehidupan mereka. Kenyataan sama-sama mereka alami – dan juga soal tinggal dalam rumah yang sama dan menikah dengan laki-laki yang sama.

Ketika Hana menyadari bahwa hanya Allah yang dapat memenuhi kebutuhan dalam hidupnya dan ia mulai mempercayakan Allah untuk melakukan hal itu, kisah hidupnya mulai melingkar naik. Tidak ada bukti bahwa hal ini terjadi juga dalam hidup Penina.
Apakah yang membuat perbedaan dalam kehidupan mereka? Apakah yang dapat mempengaruhi dalam kekurangsempurnaan dan keputusasaan kita?
Hana tahu ke mana harus berpaling untuk mengisi kekosongan itu.
Perjalanan itu tidak mudah. Ia telah mendengarkan ejekan lawannya selama bertahun-tahun. Ketia ia lari ke Bait Suci untuk mencurahkan isi hatinya kepada Allah, ia harus menghadapi tuduhan imam bahwa ia mabuk. (Mungkin Eli, imam itu, melampiaskan rasa putus asanya sendiri kepada Hana; dua anak laki-laki Eli telah menghancurkan reputasi mereka dengan bergaul bersama wanita-wanita tak bermoral yang berkeliaran di sekitar Bait Suci.) Namun Hana memandang melampaui orang-orang itu . . . kepada Tuhan.
Dan dengan hati pedih ia [Hana] berdoa kepada Tuhan sambil menangis tersedu-sedu.

Kemudian bernazarlah ia, katanya, “Tuhan semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan [sungguh-sungguh] mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada Tuhan untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya” (I Samuel 1:10-11).
Penyelesaian atas persoalan Hana hanya dapat ditemukan di dalam satu Oknum. Hana menyebut-Nya Tuhan Semesta Alam, yaitu YEHOVAH-SABAOTH.

“TUHAN SABAOTH ADALAH NAMANYA”
Arti harfiah kata sabaoth ialah “berkumpul bersama-sama”, dan Yehova-sabaoth diterjemahkan sebagai “Tuhan semesta alam”. Nama Allah ini, yang banyak di antara kita menghubungkanny dang nyanyian puji-pujian lama dari gereja, menggambarkan Allah sebagai Tuhan bala tentara Surga. Ia adalah pemimpin beribu-ribu malaikat yang selalu setia kepada-Nya dan kepada setiap perintah-Nya. Bala tentara yang sama itulah yang akan dipimpin oleh Yesus Kristus sebagai panglima tertinggi untuk melawan Iblis pada akhir zaman ini.
Lalu aku melihat surga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih [muncul]; dan Ia yang menungganginya bernama: Yang Setia dan Yang Benar, Ia menghakimi dan berpeerang dengan adil. . . . Dan semua pasukan yang disurga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. 

Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul . . . bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada dan besi. . . .

Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis satu nama, yaitu, RAJA SEGALA RAJA DAN TUAN DI ATAS SEGALA TUAN (Wahyu 19:11, 14-16).
Nama khusus Yehova ini hanya digunakan sekali-sekali bila Bangsa Israel menghadapi masa-masa krisis dalam sejarah, dan zaman ketika Hana hidup benar-benar cocok dengan gambaran tersebut. meskipun hakim-hakim seperti Debora dan Gideon telah mencoba mengarahkan bangsa itu kembali kepada Allah, Bangsa Israel telah terpikat pada cara-cara penyembahan berhala bangsa Kanaan. Samson secara fisik kuat, namun secara moral ia adalah salah seorang hakim yang paling lemah. Kepemimpinannya yang hanya sekali-sekali dan kejatuhannya yang dramatis meninggalkan Bangsa Israel dalam keadaan kecewa dan putus asa. Ketika kekuatan Samson tidak dapat lagi berfungsi sebagai penangkis, orang-orang Filistin memulai suatu kekuasaan yang menakutkan.

Pemakaian pertama nama Yehova-sabaoth terdapat dalam I Samuel pasal pertama, dalam doa Hana. Hana tidak berdoa mint seorang anak laki-laki untuk memuaskan kebutuhannya sendiri, untuk menyenangkan suaminya, atau untuk membungkam ejekan tajam Penina. Ia tidak sekadar meminta anak. Ia meminta seorang anak laki-laki supaya ia dapat mempersembahkan anak itu kembali kepada Allah untuk dipakai dalam pelayanan-Nya, apapun yang Allah inginkan.
Orang laki-laki yang total milik Allah sangat dibutuhkan oleh Bangsa Israel. Anak-anak lelaki Eli tidak memberikan kepemimpinan rohani kepada bangsa itu. Jelas bahwa mereka tidak mampu atau tidak bersedia melakukan hal itu.

Di sinilah letak pentingnya Hana menggunakan nama Yehovah-sabaoth dalam doanya pada I Samuel 1:11. Tuhan semesta alam tidak dapat menyelamatkan Bangsa Israel dari serbuan orang Filistin sebelum Israel bertobat dan berbalik kepada Allah. Seseorang harus menjembatani jurang pemisah antara keturunan Abraham yang tidak patuh terhadap Pencipta mereka g penuh belas kasihan, seseorang dengan roh kebaikan dan hati yang bersemangat bagi kemuliaan Allah dan bagi umat Allah.

Apakah saudara memperhatikan pengulangan kata hamba dalam doa Hana? Bahkan sesudah penghinaan yang tidak menyenangkan atas hdiupnya karena kemandulannya, bahkan sesudah diejek lawannya dengan tajam, bahkan sesudah mendapat teguran yang kejam dari Imam Eli, roh Hana penuh kebaikan. Permintaannya tidak mementingkan diri sendiri.


Dan permintaannya dipenuhi oleh Yehova-sabaoth. Anak laki-laki Hana, Samuel, mewarisi roh kebaikan yang dimiliki Hana. Sebagai salah seorang tokoh yang amat penting dalam Perjanjian Lama, ia sangat dikasihi oleh orang-orang yang dipimpinnya. Dan ia benar-benar memiliki hati penuh semangat seperti ibunya. Dengan menjembatani masa antara hakim-hakim Israel dan raja-raja Israel, ia membuat keturunan Israel kembali kepada Allah.

Kehidupan Hana tampaknya tandus tanpa harapan. Sifatnya yang pendiam dan melankolis tidak dapat melawan kepribadian Penina yang terang-terangan dan agresif. Persaingan itu tampaknya tidak seimbang, akibatnya sudah pasti.

Akan tetapi, Allah memakai sifat Hana yang pendiam dan lembut untuk meninggalkan kesan yang tidak akan hilang terhadap anak laki-laki mungil yang sensitif yang akan menjadi hamba Allah pada saat itu. Ketika Hana menjenguk Samuel tiap tahun, ia selalu membawakan untuk Samuel hasil ketekunannya berupa sebuah jubah buatan tangan, sama seperti doa-doanya yang penuh ketekunan yang pasti dengan hangat membungkus Samule sepanjang tahun.

Kemudian ketika Hana mengasuh anak-anaknya yang lain yang dikaruniakan Allah kepadanya, yaitu tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan, menurut I Samuel 2:21, perasaan diri tidak berarti berubah menjadi perasaan diterima. Hana tidak perlu lagi undur dari meja perjamuan untuk menangis di dalam kemah suci. Elkana tidak perlu lagi menyakinkan Hana akan cintanya. Kekosongan tersebut telah terisi.
Pengetahuan bahwa Allah telah menerima doa hamba-Nya, dan juga telah menerima hamba-Nya itu, membuat Hana terbebas dari dirinya sendiri. Hana terbebas dari musuhnya yang sesungguhnya, yaitu rasa terhina, rasa kurang sempurna dan dapat menggunakan serta mengembangkan karunia-karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.


Penerimaan Allah yang tanpa syarat tidak bergantung pada pengembangan sifat-sifat kita. Tetapi penerimaan yang menakjubkan dan membawa hidup itu, bila disadari secara mendalam, akan mendorong kita untuk semakin bertumbuh dan semakin setia.
Waktu saya menjadi dewasa dengan mengembangkan sifat-sifat serupa dengan Kristus, saya akan semakin hari semakin benar-benar merasa diri berarti karena menjadi kepunyaan Tuhan dan melayani Tuhan
Penina seharusnya dapat mengalami rasa diri berarti juga. Tragisnya, mungkin ia tidak pernah mengalami hal itu.

Apakah pertempuran saudara tampak tak seimbang? Apakah hasil pertempuran itu kelihatannya pasti kalah? Apakah saudara telah menghadapi ejekan dan hinaan begitu lama sehingga patah semangat atau tindakan melarikan diri rasanya merupakan alternatif yang diterima baik?
“Tuhan semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini. . . .”
Bila saudara memiliki hati seperti Hana, hati yang mengenal Allah Hana, yaitu TUHAN SEMESTA ALAM, para musuh tidak akan mempunyai harapan.


*Dikutip dari "Bila Allah Terasa Jauh", Joy Jacobs, Penerbit Gandum Mas, Cetakan Pertama 1992

Thursday, April 5

Life A short love story

Belum ditonton sampai selesai.... kalo kamu sudah nonton, maukah kamu memberikan pesan dan kesan di sini? trims sebelumnya :)

This is it???

This is a short animation done be Canaan M. Audio done be Phanin S. 
It's a simple animation about life and how we can build up everything, 
but in the end it can't come with us.

AGAIN


it's too hard...
i don't know if i can ever get up again,,
i don't think if i can do anything anymore,,
FATHER....
I will get up again...
and when it gets hard,
i will periodically come back and water it.
LORD,,We finished the task on time.
Good job,,u can come back,,,
When things get hard.
take time and look around u for small,
common things.
u can see God's comfort and
encouragements even through nature.

Saturday, March 31

Saya Kehilangan Kendali (3)

posting sebelumnya: 
Saya Kehilangan Kendali (1) 
Saya Kehilangan Kendali (2)

Hana pertama, dan aku kedua, dan selanjutnya akan selalu demikian... Aku telah melahirkan anak-anak Elkana, namun cintanya tidak akan pernah kuketahui. Ketika mereka berbisik dalam kegelapan, aku mendekap anak-anakku. Ia Rakhel; aku adalah Lea -- Elkana mencintai yang mandul. Oh, aku membencinya! Betapa aku membencinya! Setiap kali aku melihat air matanya. Mengingatkan aku bahwa masa depan, tahun-tahun yang panjang dan sepi itu, akan dilewatkan di samping perempuan iniyang memiliki semua yang kuinginkan... Ia begitu disayangi, toh ia menginginkan lebih banyak. Bila aku tidak dapat memenangkan Elkana melalui anak-anak yang kulahirkan, maka aku bersumpah, aku akan membalas kepadanya. Hana -- mawar di samping duri!dan duriku akan menusuknya secara kejam, dan aku akan mengejeknya setiap hari, mengingatkan dia bahwa ia mandul, sehingga ia akan tetap merana. [Jacobs, They Were Women, Too,28]
Dan itulah yang benar-benar dilakukan oleh Penina yang kesepian, tidak dikasihi dan putus asa. Ia menyakiti Hana karena Hana-lah objek cinta suami mereka.

Hari-hari raya, peseta-pesta pengorbanan merupakan hari-hari yang terburuk. Pertama Samuel pasal satu menceritakan secara singkat saat hari raya Paskah, ketika seluruh keluarga -- yaitu Elkana, Hana yang tanpa anak dan Penina dengan "semua putra dan putrinya" -- melakukan perjalanan ke Silo untuk mempersembahkan kurban tahunan.

Jarak dari Rama ke Silo lebih kurang lima belas mil. Tentu saja kita menganggapnya perjalanan yang singkat. Namun tidak untuk keluarga yang tidak bahagia ini! Perjalanan tersbut akan memakan waktu paling tidak dua hari dengan berjalan kaki atau naik keledai. Penina tidak memiliki selimut untuk menyelimuti si kecil, tidak ada botol susu untuk bayinya. Pasti perjalanan itu sangat sulit baginya.
Dan bila Hana menawarkan pertolongannya, "musuhnya" mungkin berteriak, "Apa yang kau ketahui tentang mengasuh anak? Jika Allah Yehova ingin engkau memperoleh anak-anak, Ia tentu akan memberikan kepadamu anakmu sendiri! Menjauhlah dari ku dan kau boleh menangis sepuasmu! Cuma air mata rupanya yang dapat kau keluarkan!"

Pada hari Elkana mempersembahkan kurban, biasanya ia merayakannya dengan memberikan kepada Penina dan anak-anaknya masing-masing satu bagian dari daging persembahan itu. 
Tetapi ia memberi satu bagian yang lebih besar kepada Hana karena ia sangat mengasihi Hana (I Samuel 1:4-5, FAYH). Madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena Tuhan telah menutup kandungannya (I Samuel 1:6).

Setiap tahun pada saat Natal, saya sangat memperhatikan untuk memastikan bahwa ketiga anak kami mendapat hadiah yang "sama nilainya". Namun walaupun saya telah berusaha sungguh-sungguh, akhirnya ketika saat membuka hadiah tiba, kami rasanya tidak pernah tenang. Salah seorang biasanya mengatakan sambil setengah bergurau dan setengah serius bahwa saudaranya mendapat lebih banyak dari pada yang dia peroleh.

Jadi, mudah untuk membayangkan bagaimana tentunya perasaan Penina ketika Hana dengan begitu jelas menerima perlakuan yang istimewa. Terutama ketika Penina mendengar bisikan lembut Elkana kepada Hana yang sedang amat sedih, "Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu daripada sepuluh anak laki-laki?" (I Samuel 1:8).

Biasanya wanita kalau bukan "tukang menangis" ya "tukang teriak". Semakin banyak tukang teriak berteriakan, semakin banyak tangisan tukang menangis. Dan semakin lama tukang teriak berteriak, semakin lama tangisan tukang menangis. Suatu lingkaran setan yang hebat!

Apakah saudara melihat bahwa masing-masing wanita dalam cerita yang tragis ini membiarkan "wanita yang lain" membuatnya merasa sangat kurang cukup? Bukankah ini merupakan pengulangan peristiwa mengenai Sarai dan Hagar atau Rakhel dan Lea?

Hagar, Lea dan Penina merasa kurang dicintai. Sarai, Rakhel dan Hana kurang memiliki perasaan berarti karena tidak dapat mencurahkan cinta mereka kepada anak-anak.
Tidak peduli seberapa banyak yang kita miliki (atau yang orang lain kira kita miliki), tidak peduli bagaimana hebat penampilan kita (atau anggapan orang tentang penampilan kita), tidak peduli seberapa besar kita dicintai (atau anggapan orang bahwa kita dicintai), seperti yang dikatakan Pascal, ada suatu kekosongan berbentuk Allah di dalam diri masing-masing kita yang hanya Allah sendiri dapat mengisinya!

Sebelum kita dapat menerima kenyataan tersebut, kita akan selalu mengalami kenyataan tersebut, kita akan selalu mengalami berbagai kesulitan dengan perasaan tidak sempurna, tidak berarti dan tidak aman. Tidak hanya dalam pikiran kita, melainkan juga dalam hati kita.

Bertahun-tahun yang lalu Marilyn Monroe, simbol seks Amerika sepanjang zaman, melakukan bunuh diri. Mengapa? Kekosongan berbentuk Allah itu tidak pernah terisi dalam hidupnya. Saat ini banyak orang melakukan macam-macam bunuh diri, baik bunuh diri mental, moral maupun spiritual. Bunuh diri mental dapat diakibatkan oleh tindakan menyerahkan pada filsafat yang salah atau pada obat-obatan yang mengubah pikiran.  Bunuh diri moral adalah penyerahan akhir pada hawa nafsu. Membuka diri pada aliran sesat dapat menyebabkan bunuh diri spiritual.

Kekosongan berbentuk Allah di dalam diri kita tidak dapat diisi dengan uang, seks atau kekuasaan. Bahkan cinta manusiawi seperti cinta Elkana pun tidak dapat mengisi kekosongan itu.

Perasaan diri berarti bergantung pada pengertian mengenai siapa saya di dalam Kristus. Saya akan merasa diri berarti waktu saya memiliki pengaruh abadi terhadap orang-orang di sekitar saya melalui pelayanan kepada mereka. Jika saya gagal dalam usaha, jika istri saya meninggalkan saya...saya masih dapat menikmati getaran perasaan berarti karena saya adalah milik Penguasa alam semesta, yang menyediakan pekerjaan untuk saya kerjakan. Ia telah memperlengkapi saya untuk pekerjaan itu. Waktu saya menjadi dewasa dengan mengembangkan sifat-sifat serupa dengan Kristus, saya akan semakin hari semakin benar-benar merasa diri berarti karena menjadi kepunyaan Tuhan dan melayani Tuhan.
Kebutuhan saya akan rasa aman menghendaki agar saya selalu dikasihi, diterima dan diperhatikan tanpa syarat. Allah telah melihat saya dalam keadaan saya yang paling buruk dan tetap mengasihi saya, malahan memberikan nyawa-Nya demi saya. [Crabb, Effective Biblical Counseling, 70]

....bersambung....